Jumat, 28 Januari 2022
BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH
Sabtu, 04 Desember 2021
PERLINDUNGAN MATA AIR
PERRLINDUNGAN MATA AIR
Perlindungan Mata Air (PMA) adalah salah
satu upaya dalam sistem penyediaan air minum untuk menjaga
sumber air baku untuk air minum agar tidak
mengalami perubahan baik terhadap kuantitas maupun terhadap kualitas air dari mata
air
Sumberdaya
air merupakan salah satu sumberdaya yang ikut terdampak pandemi Covid-19 dan
tatanan normal baru. Dalam hal ini, tatanan normal baru akan memunculkan suatu
standar baru yang perlu menjadi perhatian, salah satunya pemenuhan air baku
yang lebih berkualitas untuk berbagai kebutuhan.
Mengapa mata
air harus dilindungi?
Mata air merupakan salah satu sumber air potensial yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Nilai penting mata air bukan hanya dari kualitasnya saja, namun juga penting dari aspek kuantitas. Sebagai gambaran, dari seluruh air yang ada di bumi, air tawar yang bisa dimanfaatkan hanya 3% saja. Sekitar 30?ri air tawar tersebut, hanya 0,3% yang dapat dimanfaatkan langsung dalam bentuk air permukaan. Air tanah sebagai sumber mata air mempunyai potensi paling besar yaitu 30?ri air tawar yang ada di bumi.
Nilai penting
mata air lainnya bisa dilihat dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi.
Mata air yang berada di pegunungan pada umumnya mempunyai kualitas yang sangat
baik, sehingga hal ini menjadi daya tarik para pelaku usaha untuk
memanfaatkannya. Berbagai produk air minum dalam kemasan merupakan salah
satu bentuk pemanfaatan air mata air secara ekonomi.
Lokasi dengan
potensi mata air juga menjadi daya tarik terbentuknya peradaban sejak dahulu
kala. Pusat-pusat peradaban dunia dan kota-kota besar pada umumnya
berlokasi dekat dengan sumber air, khususnya mata air.
Secara
ekologis, pentingnya mata air ditunjukkan oleh peran mata air yang mempengaruhi
kelestarian ekosistem akuatik maupun non-akuatik yang berada di bawahnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mata air merupakan sistem penyangga
ekosistem di bawahnya.
Ke depan,
peningkatan kebutuhan air baku sebagai akibat pesatnya pembangunan dan
pertambahan penduduk merupakan salah satu ancaman. Di sisi lain, tatanan
normal baru juga menuntut agar sumber air baku khususnya mata air, memiliki
kualitas lebih baik serta kuantitasnya cukup dan tersedia sepanjang waktu.
Perlindungan
juga dapat dilihat dari sudut pandang infrastruktur dan
kawasan. Perlindungan mata air berupa infrastruktur pada intinya adalah
perlindungan melalui struktur bangunan, misalnya bangunan penampung
air. Sudut pandang kawasan merujuk perlindungan mata air secara spasial,
baik sekitar titik mata air maupun DTA (Daerah Tangkapan Air) mata air.
Proses
kejadian mata air tidak terlepas dari beberapa kondisi yang memengaruhinya.
Setidaknya terdapat tiga kondisi yang memengaruhi kemunculan mata air, yaitu
kondisi morfologi, kondisi geologi dan kondisi hidrogeologi. Karakterisasi
mata air sering digunakan untuk mengetahui proses kejadian mata air,
diantaranya berdasarkan sifat pengaliran air tanah, debit air, suhu air, tipe
akuifer, tenaga penyebab pengaliran air tanah.
Pengendalian
kerusakan mata air dan air tanah dipengaruhi oleh tekanan lingkungan,
permasalahan lingkungan, dan bencana ekologis. Dari ketiga faktor ini
selanjutnya akan mempengaruhi kondisi mata air dan air tanah. Kondisi ini
selanjutnya diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas, yakni kelas Aman – Rawan –
Rusak. Fungsi dari pengklasifikasian kelas ini nantinya akan menjadi
pertimbangan pengambilan keputusan untuk melaksanakan aksi yang sesuai untuk
kondisi masing-masing kelas.
Sementara itu, Dr. Dasapta menyatakan pemanfaatan air tanah sebagai opsi terakhir setelah air permukaan atau sumber lain. “Dalam pengambilan air tanah sebaiknya dilakukan pada musim kemarau saja, karena pada saat musim hujan kita bisa memanen air yang melimpah sekaligus mengurangi konsumsi air tanah.
Untuk
pemulihan air tanah tidak bisa dilakukan di tanah dangkal. Areal yang perlu di
cover dengan ekuivalensi simpanan air hujan dan perlu dipertimbangkan pula
berapa kapasitas (liter) yang akan dimasukkan. “Teknologi yang dapat
dikembangkan di masa depan adalah bagaimana rumah-rumah atau gedung-gedung
perkantoran dapat mandiri memproduksi air tanpa mengambil air tanahnya. Hal ini
perlu didukung dari sektor Perguruan Tinggi yang memiliki potensi SDM yang
berkualitas untuk menghasilkan riset-riset teknologi.
Senin, 15 November 2021
PENGEMBANGAN AGROFORESTRY JAMBU METE DI SELA TANAMAN JATI
Salah satu masalah yang dihadapi negara-negara berkembang termasuk
Berbagai usaha yang telah ditempuh oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya. Namun keterbatasan teknologi serta pengetahuan bagi para petani mengakibatkan penggunaan sumberdaya alam tersebut bahkan menimbulkan lahan-lahan kritis.
Melihat keadaan tersebut pemerintah mengambil berbagai kebijaksanaan meningkatkan hasil pangan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Namun pada kenyataannya jumlah lahan kritis setiap tahun semakin bertambah sehingga perlu upaya penanggulangan diantaranya melalui usaha reboisasi dan penghijauan. Bahkan saat sekarang dikembangkan suatu system tata guna lahan dengan penanaman secara bersama antara tanaman kehutanan dan tanaman pertanian yang dikenal dengan system agroforestry.
Tujuan utama dari system agroforestry adalah untuk memperbaiki serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan melalui usaha peningkatan produksi bahan makanan maupun peningkatan pendapatan penduduk yang diarahkan kepada penyelamatan dan pencegahan kerusakan hutan, tanah, dan air. Untuk itu perlu pemilihan tanaman yang baik dan tepat sesuai dengan keadaan setempat dimana diharapkan dapat memberikan keuntungan dan nilai tambah kepada para petani.
Tanaman jati (Tectona grandis) dan Jambu mete (Anacardium occidentale Linn) adalah jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman campuran antara tanaman keras dengan tanaman produtif karena disamping sifatnya yang dapat memulihkan kondisi kesuburan tanah juga pencegah erosi pada tanah-tanah gundul atau kritis. Disamping itu sifatnya yang lain adalah tahan terhadap kekeringan juga pemeliharaan mudah dan sederhana serta pertumbuhannya relatif singkat sudah dapat memenuhi fungsi dan peranannya sebagai tanaman penghijauan (Djarijah,dkk, 1994). Lebih lanjut Sumartono (1994) mengemukakan bahwa tanaman jati dan jambu mete tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi serta dapat hidup pada tanah-tanah yang kurang subur dan kekurangan hara. Tanaman jati dan jambu mete mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi oleh karena kayu jati harga kayunya sangat tinggi dan buah jambu buahnya dapat dikonsumsi disamping bijinya mengandung gizi yang tinggi sedangkan buah semunya banyak mengandung vitamin C, B1 dan B2. Kulit bijinya mengandung cairan CNSL yang berguna untuk bahan pembuat cat. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dikembangkan tanaman jambu mete
II. PERKEMBANGAN AGROFORESTRY
Di KTH Argo Munggu Lestari Desa Munggu ,Kecamatan Bungkal, Kabupate Ponorogo sedang dikembangkan tanaman jambu mete di sela tanaman jati dengan system agroforestry tumpangsari.
Istilah agroforestry meliputi berbagai macam sistem pemanfaatan lahan yang mengkombinasikan kehutanan dan pertanian atau penggembalaan pada lahan sama. Agroforestry diarahkan pada penyelesaian masalah pengembangan pedesaan, utamanya pada daerah tropis, dengan:
- Meningkatkan dan memperbaiki hasil produksi
- Menjaga penyediaan energi lokal
- Produksi kayu dan berbagai bahan mentah lainnya bagi kebutuhan petani itu sendiri, untuk industri, dan jika mungkin untuk di ekspor
- Perlindungan dan perbaikan potensi produksi pada lahan dan lingkungan yang tersedia; meningkatkan daya dukung ekologi manusia;
- Menjaga kelestarian melalui intensifikasi pemanfaatan lahan yang tepat
- Memperbaiki kondisi sosial ekonomi di daerah pedesaan dengan menciptakan lapangan kerja, pendapatan dan mengurangi resiko;
- Pengembangan sistem pemanfaatan lahan yang mengoptimalkan penggunaan teknologi modern dan pengalaman tradisional setempat sesuai dengan budaya dan kehidupan masyarakat yang dimaksud.
Dalam kaitannya dengan penggunaan lahan, sebaiknya sistem agroforestry dilaksanakan di daerah dengan kondisi topografi yang miring, dengan tingkat kesuburan yang rendah. Dengan melaksanakan system agroforestry di daerah tersebut tidak saja mengatasi erosi akan tetapi juga menjamin tersedianya pangan, kayu bakar dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani (Satjapradja, 1981). Selanjunya dikemukakan bahwa untuk pengembangan agroforestry, agar tidak mengkonversi hutan alam yang masih baik akan tetapi lebih difokuskan pada rehabilitasi tanah-tanah kritis.
1. Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn)
a. Asal dan penyebaran
Jambu mete berasal dari Amerika Selatan yakni dari daerah Brazzilia bagian Timur Laut pada daerah lembah sungai Amazone. Tanaman ini dimasukkan ke Indonesia pada abad XVI, namun belum berperan sebagai tanaman komersil (Abdullah, 1985).
Menurut
Rismunandar (1986) bahwa tanaman jambu mete kini telah menyebar ke
negara-negara yang beriklim tropis dan merupakan tanaman kosmopolit. Sedangkan
di Indonesia tersebar di daerah Jawa dan Madura.
b. Morfologi
Sistem
perakaran tanaman jambu mete terdiri atas akar tunggang dan beberapa akar yang
tumbuhnya mendatar ke samping, sedang akar-akar disekitar akar tunggang yang
tumbuhnya vertikal ke bawah, sehingga memungkinkan tanaman dapat berdiri kokoh
di atas tanah tempat tumbuhnya. Sistem perakaran dan luas daerah pertumbuhannya yang menyebar
tersebut menjamin pertumbuhan dan perkembangan tanaman sekalipun tumbuh di daerah
kering. Namun pertumbuhannya menjadi kurang baik apabila aerasi jelek.
Tanaman jambu mete termasuk tanaman pohon. Percabangan relatif dibentuk dekat permukaan tanah dengan habitus agak menyebar, sehingga menyerupai bentuk semak. Tinggi pohon mete dapat mencapai 10 – 12.
d. Syarat Tumbuh
Tanaman jambu mete dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah dengan curah hujan 500 mm setahun bahkan curah hujan 3000 - 4000 mm setahun, asal drainasenya baik (Djarijah dan Mahedalswara, 1994). Dan menurut Sumartono (1983) tanaman jambu mete lebih menyukai suhu tinggi dan dapat mentolerir suhu udara yang lebih tinggi dari 30°C dan rendah rata-rata 20°C dengan curah hujan terendah hingga tinggi.
Umumnya tanaman jambu mete dapat tumbuh dan menghasilkan .hampir pada semua jenis tanah kecuali tanah-tanah lempung, tanah-tanah yang mengandung lapisan garam dan tanah-tanah dengan drainase buruk. Tanaman jambu mete juga dapat tumbuh dengan baik pada tempat-tempat dengan kedalaman air tanah mencapai 10 m. tanah gembur mengandung pasir dan air tidak tergenang adalah tempat tumbuh terbaik bagi jambu mete.
Dengan
penerapan pola agroforestry terhadap kedua tanaman di atas dapat digamparkan bahwa
penanaman tumpangsari dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan jambu mete karena
selain menekan pertumbuhan gulma yang sangat memberikan pengaruh terhadap
persaingan penyerapan unsur hara. Disamping itu tanaman jati dapat berfungsi sebagai tanaman pelindung
dengan perakaran yang dalam mampu mencegah terjadinya evaporasi yang berlebihan
sehingga lebih memungkinkan tersedianya air dalam tanah yang merupakan faktor
penting dalam mekanisme penyerapan hara dimana akar lebih banyak
mengabsorbsi hara dalam suasana lembab
dari pada bila akar tumbuh dalam suasana kering.
Menurut Yuhaeni dkk (1983) bahwa unsure nitrogen sangat kuat pengaruhnya dalam fase-fase pertumbuhan tanaman karena unsure nitrogen berfungsi didalam sintesa protein yang merupakan unsure pembangun protoplasma dalam pembentukan organ-organ tanaman. Dengan bertambahnya unsur-unsur nitrogen maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan menjadi lebih baik sehingga tanaman cenderung membentuk daun yang lebar serta batang yang lebih besar dan tanaman semakin tinggi.
TANAMAN JATI
Merupakan pohon yang menghasilkan kayu
berkualitas tinggi. Pohon jati ini memiliki kayu yang kuat dan awet untuk
membuat furniture. Kayu dari pohon jati merupakan kayu berkualitas tinggi dan
dihasilkan dari pohon yang berumur lebih dari 80 tahun. Pohon jati dapat tumbuh hingga
ratusan tahun, di Indonesia pohon jati terbesar dan tertua yaitu pohon 'Jati
Denok' yang tumbuh di Blora, Jawa Tengah.
Pohon jati terdiri dari beberapa bagian yang
memiliki manfaat sebagai berikut:
Daun jati dapat
dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati
akan terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi pecel yang terkenal dari Ponorogo. Selain itu daun jati juga banyak
digunakan di gunakan
sebagai pembungkus .tempe
Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan
sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw.
walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat jati (Endoclita). Ulat
jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya.
Kayu jati dimanfaatkan untuk membangun rumah dan
juga alat pertanian. Kayu jati pada masa perang juga digunakan untuk membangun
kapal-kapal niaga dan kapal-kapal perang. Saat ini kayu jati digunakan sebagai
furnitur.
Kesimpulan
Dari hasil uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa pola pengembangan tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn) dengan tanaman Jati (Tectona Grandis) yang merupakan salah satu bahan industri dapat dilakukan dengan mengetahui sifat-sifat pertumbuhan masing-masing tanaman. Dengan demikian nilai produksi dari suatu lahan yang kondusif dapat ditingkatkan secara ekonomi.
Kamis, 07 Oktober 2021
MENGENAL TANAMAN KAPULAGA
MENGENAL TANAMAN KAPULAGA
DISKRIPSI
Tanaman kapulaga merupakan
tanaman perdu yang tumbuh baik pada
kondisi ternaungi. Tanaman jenis
rempah yang membentuk rumpun keluarga Zingiberaceae atau yang lebih
dikenal dengan jahe-jahean dan dapat
mencapai ketinggian 2-3 meter. Kapulaga memiliki batang
berpelepah daun yang membalut batangnya. Letak daunnya berseling-seling.
Bunganya tersusun dalam tandan yang keluar dari rimpangnya.
SYARAT TUMBUH KAPULAGA
Pada
umumnya petani di Indonesia sendiri yang membudidayakan jenis kapulaga lokal,
sedangkan kapulaga sabrang umumnya masih jarang. Untuk jenis kapulaga lokal
sendiri terdapat tiga jenis diantaranya jenis buah putih, buah merah besar dan
buah merah kecil.Di lihat dari tinggi tanamannya sendiri, jenis jahe-jehean ini
bisa mencapai tinggi 3 meter. Adapun buahnya berbentuk bulat telur.Sementara itu dari sisi geografisnya sendiri, tanah
yang bisa ditanami kapulaha berkisar diketinggian 0 – 700 mdpl. Adapun dari
jenis kapulaga sabrang bisa tumbuh diketinggian antara 700 – 1500 mdpl.Tanaman
kapulaga menghendaki jenis tanah yang banyak mengandung humus (bahan organik),
gembur dan memiliki drainase yang baik dengan pH minimal 5,6 hingga 6,8. Jenis
tanah yang baik untuk budidaya kapulaga adalah tanah latosol, podsolik merah
kuning dan mediteran dengan tekstur tanah lempung liat atau lempung berpasir. Jenis tanaman ini
sebenarnya mudah untuk dibudidayakan. Dengan letak geografis Indonesia yang ada
di subtropis ini akan sangat memungkinkan jenis kapulaga ini dapat tumbuh subur.
Kapulaga tumbuh dengan baik pada
daerah-daerah yang beriklim tropis, gersang/semi gersang dan daerah beriklim
sedang. Curah hujan optimal yang dikehendaki tanaman kapulaga adalah 2500
hingga 4000 mm per tahun. Kapulaga merupakan tanaman yang membutuhkan tanaman
pelindung, sebab tanaman ini tidak membutuhkan cahaya matahari secara penuh.
Intensitas cahaya yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kapulaga adalah 30
hingga 70 persen.
CARA BUDIDAYA KAPULAGA
Cara budidaya tanaman kapulaga yang akan dijabarkan di sini
meliputi pengolahan lahan tanam, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan
proses panen.
Dengan mengetahui beberapa teknik tersebut, pastinya akan
memudahkan para petani dalam menghasilkan tanaman kapulaga yang bernilai jual
dan mempunyai kualitas yang tinggi.
PENGOLAHAN LAHAN
Tanaman kapulaga
merupakan tanaman yang tidak begitu membutuhkan intensitas cahaya matahari
penuh, sehingga dalam budidayanya diusahakan untuk menggunakan metode tumpan
sari. Dengan metode ini, tanaman yang bisa ditanam dalam satu lahan
adalah tanaman sengon atau
kopi.
Tanaman kopi atau sengon ini nantinya akan menjadi tanaman
pelindung bagi kapulaga supaya tidak terlalu banyak terpapar sinar matahari.
Kemudian, untuk langkah pengolahan lahan tanam, sebaiknya petani
mulai mengolah pada bulan September hingga Oktober. Dikarenakan pada bulan
tersebut, tiba datangnya awal musim hujan.
Jika lahan ternyata
masih dalam kondisi penuh dengan gulma atau semak-semak, lakukan pembersihan
dulu pada lahan guna gulma itu tidak mengganggu pertumbuhan kapulaga nantinya.
Selanjutnya, tanah harus digemburkan dengan cara dicangkul
sedalam 30 cm. Tanah yang keras tentunya sangat tidak bagus sebagai lahan
budidaya kapulaga.
Taburkan kapur pertanian pada tanah apabila pH atau derajat
keasaman tanah ternyata kurang dari 5,6. Buat lubang tanam pada tanah sedalam
40 cm dengan jarak tanam 1 x 2 meter.
Langkah berikutnya, berikan pupuk kandang atau kompos serta
campurkan dengan tanah galian lubang tanam. Jumlah banyaknya pupuk yang akan
digunakan disesuaikan dengan seberapa luas lahannya dan kondisi dari lahan itu
juga.
PENANAMAN KAPULAGA
Langkah selanjutnya,
dalam membudidayakan tanaman kapulaga adalah melakukan proses penanaman. Jika
pada proses pengolahan lahan dilakukan pada bulan September hingga Oktober,
pada proses penanaman kapulaga dilakukan mulai Oktober sampai Desember. Pada
bulan-bulan tersebut musim hujan juga baru dimulai, cocok untuk pertumbuhan
tanaman kapulaga.
Seperti yang disarankan sebelumnya, tanaman kapulaga memang
lebih baik jika ditanam dengan metode tumpang sari sebagai pohon pelindung.
Jenis pohon pelindung
juga beragam seperti kopi, lamtoro, dan dadap. Perbandingan yang digunakan
dengan pohon pelindung yakni 1 pohon pelindung banding 2 pohon kapulaga.
Bibit kapulaga yang sudah siap dipindahkan lantas ditanam
sedalam 10 hingga 15 cm pada lubang tanam. Pastikan jika tanah tersebut sudah
diberikan pupuk pada proses pengolahan tanah sebelumnya.
Dalam proses
pemindahan bibit, lakukan dengan perlahan sehingga tunas tidak rusak. Untuk
setiap lubang tanam, setiap lubang tanam diisi dengan dua bibit kapulaga
Jarak untuk setiap tanaman diusahakan sekitar 1 x 2 m hingga 1,5 x 2 m.
Kemudian, padatkan tanah yang ada di sekitar lubang tanam supaya
bibit yang ditanam tadi benar-benar tertanam dengan sempurna.
PEMELIHARAAN TANAMAN KAPULAGA
Setidaknya ada beberapa langkah pemeliharaan
dan perawatan tanaman kapulaga. Langkah pemeliharaan tersebut bermula dari
penyulaman, penyiangan, penggemburan, pemupukan susulan, serta pengendalian
hama dan penyakit
PEMANENAN
TANAMAN KAPULAGA
Tanaman kapulaga
memenuhi syarat untuk dipanen jika usia tanaman sudah mencapai 2 sampai 3
tahun. Kapulaga ini bisa berbuah sepanjang tahun, oleh karenanya panen kapulaga
bisa dilakukan sampai 4 kali panen besar dan 4 kali panen kecil. Panen besar
dan kecil ini dilakukan secara bergantian.
Pada tanaman kapulaga yang tumbuh dengan baik, hasil panennya
bisa mencapai berton-ton yakni sekitar 3 ton per hektarnya.
Jumlah panen tersebut biasanya berlaku pada tanaman yang sudah
berumur belasan tahun. Sementara itu, usia produktif dari kapulaga berlangsung
hingga usia 15 tahun.
Pertanda jika buah kapulaga sudah bisa dipanen meliputi warnanya
yang hijau kekuningan. Perlu diketahui jika memanen kapulaga harus dilakukan
sebelum buahnya matang sempurna.
Jika memanen menunggu
buah kering dan warnanya berubah sangat tuang, maka hasil tersebut dianggap
tidak bagus, serta buahnya akan pecah pula. Selepas buah dipanen, buah tersebut
harus dijemur dan dikeringkan di bawah sinar matahari secara langsung.
Begitulah cara budidaya tanaman kapulaga bermula dari persiapan
lahan beserta pemilihan bibit hingga proses memanen.
Jumat, 24 September 2021
DAMPAK KEBAKARAN HUTAN UNTUK KEHIDUPAN
DAMPAK KEBARANAN HUTAN
UNTUK KEHIDUPAN
Pendahuluan
Kebakaran
hutan dan lahan berdampak pada rusaknya ekosistem dan
menyebabkan musnahnya flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di hutan.
Kebakaran hutan mengakibatkan hutan menjadi
gundul, sehingga tidak mampu lagi menampung cadangan air di saat musim hujan,
hal ini dapat menyebabkan tanah longsor ataupun banjir.
Dampak Yang ditimbulkan dari kebakaran hutan
Secara umum, orang Indonesia memiliki kesadaran rendah
akan praktik lingkungan yang berkelanjutan. Hal ini tercermin dari penggunaan
praktik tebang-dan-bakar oleh petani dan perusahaan (sebuah strategi untuk
membersihkan lahan demi perkembangan perkebunan, biasanya untuk perluasan
perkebunan kelapa sawit atau industri pulp dan kertas), terutama di pulau
Sumatra dan Kalimantan. Strategi tebang-dan-bakar adalah pilihan yang paling
murah makanya sering digunakan. Meski praktik ini sebenarnya tidak diijinkan
oleh hukum Indonesia, penegakan hukum yang lemah dan adanya korupsi
memungkinkannya. Namun, praktik tersebut mengimplikasikan risiko dan dampak
besar untuk lingkungannya. Misalnya, kebakaran hutan yang terjadi pada bulan
Juni sampai dengan Oktober 2015 sangat di luar kendali. Berdasarkan laporan
Bank Dunia - yang dirilis pada bulan Desember 2015 - sekitar 100.000 titik api
(kebakaran hutan) buatan manusia menghancurkan sekitar 2,6 juta hektar lahan
antara bulan Juni dan Oktober 2015 dan menyebabkan kabut beracun menyebar ke
bagian lain Asia Tenggara, sehingga menimbulkan ketegangan diplomatik. Bencana
ini diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 221 triliun (1,9 persen dari produk
domestik bruto) dan mengeluarkan sekitar 11,3 juta ton karbon setiap hari
(angka yang melebihi 8,9 juta ton karbon emisi harian di Uni Eropa), sehingga
menjadi salah satu bencana alam terburuk dalam sejarah manusia. Kebakaran hutan
pada tahun 2015 menjadi sangat di luar kendali karena cuaca kering yang luar
biasa. Fenomena cuaca El Nino, yang terkuat sejak tahun 1997, membawa cuaca
kering yang parah ke Asia Tenggara dan oleh karena itu petugas pemadam
kebakaran tidak bisa mengandalkan dukungan dari hujan. El Nino, yang
(rata-rata) datang sekali setiap lima tahun, menyebabkan perubahan iklim di
Samudera Pasifik kemudian menyebabkan kekeringan di Asia Tenggara dan karena
itu juga mempunyai dampak besar terhadap panen komoditas pertanian. Dampak yang
ditimbulkan kebakaran hutan ternyata sangat kompleks. Kebakaran hutan tidak
hanya berdampak terhadap ekologi dan mengakibatkan kerusakan lingkungan saja.
Namun dampak dari kebakaran hutan ternyata mencakup bidang-bidang lain. Menurut
Rully Syumanda (2003), menyebutkan ada 4 aspek yang terindikasi sebagai dampak
dari kebakaran hutan. Keempat dampak tersebut mencakup dampak terhadap
kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi, dampak terhadap ekologis dan kerusakan
lingkungan, dampak terhadap hubungan antar negara, serta dampak terhadap
perhubungan dan pariwisata.
Dampak Terhadap Sosial,
Budaya, dan Ekonomi.
Kebakaran hutan memberikan dampak yang signifikan
terhadap kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi yang diantaranya meliputi: 1.
Terganggunya aktivitas sehari-hari; Asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan
secara otomatis mengganggu aktivitas manusia sehari-hari, apalagi bagi yang
aktivitasnya dilakukan di luar ruangan. 2. Menurunnya produktivitas;
Terganggunya aktivitas manusia akibat kebakaran hutan dapat mempengaruhi
produktivitas dan penghasilan. 3. Hilangnya sejumlah mata pencaharian
masyarakat di dan sekitar hutan; Selain itu, bagi masyarakat yang
menggantungkan hidup dari mengolah hasil hutan, dengan terbakarnya hutan
berarti hilang pula area kerja (mata pencarian). 4. Meningkatnya hama;
Kebakaran hutan akan memusnahkan sebagian spesies dan merusak kesimbangan alam
sehingga spesies-spesies yang berpotensi menjadi hama tidak terkontrol. Selain itu,
terbakarnya hutan akan membuat sebagian binatang kehilangan habitat yang
kemudian memaksa mereka untuk keluar dari hutan dan menjadi hama seperti gajah,
monyet, dan binatang lain. 5. Terganggunya kesehatan; Kebakaran hutan berakibat
pada pencemaran udara oleh debu, gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain infeksi
saluran pernafasan, sesak nafas, iritasi kulit, iritasi mata, dan lain-lain. 6.
Tersedotnya anggaran negara; Setiap tahunnya diperlukan biaya yang besar untuk
menangani (menghentikan) kebakaran hutan. Pun untuk merehabilitasi hutan yang
terbakar serta berbagai dampak lain semisal kesehatan masyarakat dan bencana
alam yang diambilkan dari kas negara. 7. Menurunnya devisa negara. Hutan telah
menjadi salah satu sumber devisa negara baik dari kayu maupun produk-produk non
kayu lainnya, termasuk pariwisata. Dengan terbakarnya hutan sumber devisa akan
musnah. Selain itu, menurunnya produktivitas akibat kebakaran hutan pun pada
akhirnya berpengaruh pada devisa negara.
DampK Ekologis
dan Kerusakan Lingkungan.
Kebakaran hutan memberikan dampak langsung terhadap
ekologi dan lingkungan yang diantaranya adalah: 1. Hilangnya sejumlah spesies;
selain membakar aneka flora, kebakaran hutan juga mengancam kelangsungan hidup
sejumlah binatang. Bebrabagai spesies endemik (tumbuhan maupun hewan) terancam
punah akibat kebakaran hutan. 2. Erosi; Hutan dengan tanamannya berfungsi
sebagai penahan erosi. Ketika tanaman musnah akibat kebakaran hutan akan
menyisakan lahan hutan yang mudah terkena erosi baik oleh air hujan bahkan
angin sekalipun. 3. Alih fungsi hutan; Kawasan hutan yang terbakar membutuhkan
waktu yang lama untuk kembali menjadi hutan. Bahkan sering kali hutan mengalami
perubahan peruntukan menjadi perkebunan atau padang ilalang. 4. Penurunan
kualitas air; Salah satu fungsi ekologis hutan adalah dalam daur hidrologis.
Terbakarnya hutan memberikan dampak hilangnya kemampuan hutan menyerap dan
menyimpan air hujan. 5. Pemanasan global; Kebakaran hutan menghasilkan asap dan
gas CO2 dan gas lainnya. Selain itu, dengan terbakarnya hutan akan menurunkan
kemampuan hutan sebagai penyimpan karbon. Keduanya berpengaruh besar pada
perubahan iklim dan pemansan global. 6. Sendimentasi sungai; Debu dan sisa
pembakaran yang terbawa erosi akan mengendap di sungai dan menimbulkan
pendangkalan. 7. Meningkatnya bencana alam; Terganggunya fungsi ekologi hutan
akibat kebakaran hutan membuat intensitas bencana alam (banjir, tanah longsor,
dan kekeringan) meningkat.
Dampak Terhadap Hubungan
Antar Negara.
Asap hasil
kebakaran hutan menjadi masalah serius bukan hanya di daerah sekitar hutan
saja. Asap terbawa angin hingga ke daerah lain bahkan mencapai berbagai negara
tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Dampak Terhadap
Perhubungan dan Pariwisata.
Kebakaran hutan pun berdampak pada pariwisata baik secara langsung ataupun tidak. Dampaknya seperti ditutupnya obyek wisata hutan dan berbagai sarana pendukungnya, terganggunya transportasi, terutama transportasi udara. Kesemunya berakibat pada penurunan tingkat wisatawan secara nasional. Mengingat sedemikian kompleknya dampak yang diakibatkan oleh kebakaran hutan sudah selayaknya kita semua mewaspadai. Sekalipun tinggal jauh dari hutan, menumbuhkan kesadaran akan bahaya kebakaran hutan mungkin salah satunya.
Kamis, 12 Agustus 2021
SISTEM VERIFIKASI LEGALITAS KAYU
SISTEM VERIFIKASI LEGALITAS KAYU
Apakah SVLK? Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) merupakan sistem pelacakan yang disusun secara multistakeholder untuk memastikan legalitas sumber kayu yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia . Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dikembangkan untuk mendorong implementasi peraturan pemerintah yang berlaku terkait perdagangan dan peredaran kayu hasil hutan.
Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) adalah sistem pelacakan yang tersusun secara multistakeholder untuk memastikan legalitas sumber kayu yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia. Sistem ini dikembangkan untuk mendorong penerapan peraturan pemerintah terkait perdagangan dan peredaran hasil hutan di Indonesia secara legal.
VLK itu juga diharapkan menjadi “satu-satunya” sistem legalitas untuk kayu yang berlaku di Indonesia. “Sistem ini diharapkan memberi kepastian bagi semua pihak yakni pembeli, pemilik industri, pengusaha, penegak hukum, pemerintah dan masyarakat.
Perhatian kepada kelestarian ini akan menjamin terjaganya fungsi ekologis dan sosial hutan. Secara ekonomi aturan ini akan memberi koreksi pada fungsi produksi yang berdampak pada pengurangan volume produksi.
Tentang SVLK
Sistem Verifikasi Legalitas Kayu atau SVLK berfungsi untuk memastikan produk kayu dan bahan bakunya diperoleh atau berasal dari sumber yang asal-usulnya dan pengelolaannya memenuhi aspek legalitas. Kayu disebut legal bila asal-usul kayu, izin penebangan, sistem dan prosedur penebangan, pengangkutan, pengolahan, dan perdagangan atau pemindahtanganannya dapat dibuktikan memenuhi semua.
LINGKUP SVLK
Semua kayu dari hutan negara atau hutan hak wajib menjalani verifikasi legalitas. Kewajiban ini menjamin asal usul sumber bahan baku. Begitu pula di industri (primer maupun sekunder), kayu bahan bakunya harus menjalani verifikasi legalitas sampai pada saat menjadi produk kayu. Produk kayu untuk ekspor memerlukan Dokumen V-Legal. Dokumen V bertujuan untuk menjamin bahwa bahan baku kayu yang dibeli berstatus legal.
TUJUAN SVLK
Rabu, 28 Juli 2021
BUDIDAYA LEBAH APIS CERANA
BUDIDAYA LEBAH APIS CERANA
Pendahuluan
Lebah madu dikenal sebagai hewan yang membawa manfaat terutama untuk kesehatan manusia
Madu yang dihasilkan oleh lebah ini terbukti ampuh untuk menjaga kesehatan tubuh dan mengobati berbagai macam penyakit.
CARA BUDIDAYA LEBAH APIS CERANA
1. Membuat rumah lebah.
* Siapkan rumah lebah yang berupa kotak kayu dengan ukuran panjang 30-40 Cm,Lebar 25 Cm.
2.Membuat bingkai sarang lebah
* Isi kotak tersebut dengan beberapa bingkai untuk sarang lebah dan untuk memudahkan dalam memanen madu.
3. Memilih Bibit lebah.
*Bibit lebah bisa di dapat dari petani yang menyediakan bibit lebah yakni lebah ratu,lebah jantan,lebah pekerja.
4.Pemeliharaan Lebah.
*Secar rutin bersihkan rumah lebah dari serangga pengganggu dan tanaman rumput liar di bawah stup
Penanaman tanaman bungah yang cukup untuk pakan lebah.
Kelebihan budidaya lebah madu
1. Tidak membutuhkan pakan yang menguras modal .
2. Tidak direpotkan dengan pemberian pakan yang biasanya teratur.
3. Hasil panen dari usaha budidaya lebah sangat menjajikan.
SIKLUS KEHIDUPAN LEBAH
Lebah adalah hewan yang hidup berkelompok.
Didalam sebuah kelompok ada 3 ( tiga) jenis lebah yaitu lebah ratu,lebah peejantan dan lebah pekerja.
LEBAH PEKERJA
Lebah pekerja 1 koloni setidaknya ada 30-60 ribu ekor lebah pekerja yang ukurannya lebih kecil.
Tugas lebah pekerja adalah membangun sarang lebah sebagai tempat bertelur lebah ratu,mengumpulkan makanan (berupa nektar,tepungsari dan air),memberikan makanan lebah ratu dan pejantan,menjaga sarang dari musuh dan membersihkan sarang.
LEBAH PEJANTAN
* Lebah pejantan adalah lebah yang berukuran lebih besar dari lebah pekerja namun tak lebih besar dari lebah ratu.
*Tubuh lebah jantan lebih pendek dari lebah ratu dan berwarna kehitam-hitaman.
*Umurnya hanya beberapa bulan.
*Lebah jantan menyuntikan racun saat melaksanakan perkawinan dan menyebabkan kebutaan lebah ratu sementara.
PEMANENAN
* Proses panen madu dengan car mengasapi area atau rumah lebah.
* Gunakan pakian pelindung agar tidak tersengat lebah.
* Ambil bingaki dari kotak kayu yang berisi sarang madu.
* Ambil sarang dari bingkai dan hilangkan lebah yang menempel disarang kemudian peras dan disaring.
Keuntungan budidaya lebah madu
Hemat biaya.
Tak perlu proses perkawinan.
harga jual tinggi.













