Senin, 08 Agustus 2022

Membangun pedesaan melalui pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH)

 

Membangun pedesaan melalui pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH)



        Kondisi sumberdaya hutan terus mengalami penurunan karena mengalami degradasi secara terus menerus. Di sisi lain jutaan penduduk secara langsung mengandalkan kehidupannya pada sumberdaya hutan. Kondisi penduduk di sekitar hutan yang dalam kemiskinan dan membutuhkan lahan sebagai sumber kehidupannya, mendorong semakin menguatnya pendekatan pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat atau social forestry. Paradigma baru pembangunan kehutanan mengarah kepada orientasi pemberdayaan masyarakat melalui Kelompkk Tani Hutan (KTH) dan menempatkan masyarakat sebagai subyek atau pelaku utama. Sebagai pelaku utama dalam mengelola sumberdaya hutan, maka  pemberdayaan menjadi faktor yang sangat penting. Terlebih lagi dalam sistem pengelolaan hutan secara bersama (kolaboratif) antara Dinas kehutanan  dengan masyarakat. Salah satu pemberdayaan terhadap masyarakat yang efektif yaitu melalui Kelompok Tani Hutan (KTH), karena lebih luas jangkauannya dan sesuai dengan budaya masyarakat pedesaan yang komunal. Pemberdayaan  ini bertujuan untuk mengkaji :

    1. Dinamika kelompok masyarakat sekitar hutan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya;

    2. Tingkat keberdayaan masyarakat sekitar hutan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh;

    3. Tingkat partisipasi masyarakat sekitar hutan dan hubungannya dengan tingkat keberdayaannya; dan

   4. Menyusun model dan strategi pemberdayaan masyarakat sekitar hutan yang efektif melalui pendekatan kelompok.

Adapun kegiatan membangun pedesaan melalui pemberdayaan Kelompok Tani Hutan adalah :

1.    Pembuatan Kebun Bibit Rakyat/Desa

Adalah untuk menyediakan bibit tanaman kayu-kayuan atau tanaman serbaguna (MPTS) dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus merehabilitasi hutan dan lahan kritis serta kegiatan penghijauan lingkungan  



2.    Pembuatan bangunan sipil Teknis /KTA

Pembangunan Dam Pengendali /Penahan adalah sebagai pengendali sedimen, juga dapat untuk pengendali laju aliran permukaan dengan menampung dan meresapkan air ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi potensi banjir, erosi,dan sebagai daerah resapan air dengan memperhatikan  kaidah konservasi tanah dan air.



3.    Penghijauan

Merupakan upaya rehabilitasi lahan kritis dan lahan lainnya diluar kawasan hutan dengan maksud untuk memulihkan,mempertahankan, dan meningkatkan fungsi lahan sesuai dengan kemampuan bagi kepentingan fungsi tata air, fungsi produksi , dan fungsi perlindungan.




4.    Agroforestry

Adalah manajemen pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari, dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengolahan social, ekonomi dan budaya masyarakat.



Kerusakan kawasan hutan ini diantaranya disebabkan karena pemanfaatan sumberdaya hutan yang berlebihan, perubahan fungsi, bencana alam, kebakaran hutan, dan dencurian kayu. Akibat dari ini maka berkurangnya sumber penghidupan, sumber air berkurang, longsor/banjir/erosi, kekeringan, kelaparan, iklim berubah dan kualitas menurun.

Keberadaan hutan  tidak terlepas dari keberadaan masyarakat yang ada di sekitarnya. Karena secara realitas, banyak wilayah desa yg berbatasan langsung dengan hutan , dan mayoritas masyarakat di sekitar kawasan hutan

Dengan memahami kondisi masyarakat sekitar hutan, maka nasib masa depan kawasan hutan  akan lebih suram, kecuali jika pengelolaan kawasan hutan memperhitungkan kenyataan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Selasa, 05 Juli 2022

PEMELIHARAAN TANAMAN PRODUKTIF

 

PEMELIHARAAN TANAMAN PRODUKTIF

DiKTH Krida Wana Lestari,Desa Totokan,Kecamatan Mlarak,Kab.Ponorogo,mendapat bantuan bibit tanaman produktif dari BPDASHL SOLO  sebanyak 750 batang tanaman produktif dengan jenis tanaman Jambu Kristal, Alpukat, Matoa dan Jambu air dan Durian.  Penanaman bibit tanaman produktif dibagikan kemasyarakat dan ditanaman dilahan desa.Berhasilnya suatu budidaya tanaman  produktif dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, antara lain: iklim, kesuburan tanah, bahan tanam, pemeliharaan tanaman, dan sebagainya.  Salah satu faktor tindakan budidaya yang penting adalah pemeliharaan tanaman  . Dengan tujuan untuk mengurangi persaingan penyerapan hara ,mengurangi hambatan produksi anakan/cabang dan mengurangi persaingan  penetrasi sinar matahari



Pemeliharaan tanaman meliputi:

1.Penyiangan tanaman adalah kegiatan mencabut gulma yang berada disekitar tanaman  dan sekaligus menggemburkan tanah

2.Pemupukan tanaman adalah material yang ditambahkan pada media tanam  atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan unsure hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik.

3.Pendangiran tanaman: untuk menggemburkan tanah dengan alat untuk memperbaiki aerasi tanah

4. Pemangkasan tanaman adalah  memotong bagian tanaman yang berpenyakit, tidak produktif, dan atau yang tidak diinginkan.



Pada prinsipnya pemangkasan tanaman  bertujuan untuk mengatur pertumbuhan vegetatif tanaman produktif  ke arah pertumbuhan generatif yang lebih produktif.  Pemangkasan bertujuan mengatur tanaman produktif  agar tidak hanya menghasilkan banyak cabang dan daun, tetapi juga menghasilkan banyak buah. Dalam budidaya tanaman produktif, pemangkasan merupakan tindakan yang tidak boleh diabaikan dan tidak semudah seperti apa yang diperkirakan orang, sebab kesalahan dalam melakukan pemangkasan merupakan salah satu sebab menurunnya produksi. Oleh sebab itu sebelum melakukan pemangkasan haruslah diketahui sifat pertumbuhan tanaman produktif  sehingga dapat menentukan pelaksanaan serta cara pemangkasan yang tepat.
Tujuan pemangkasan tanaman produktif  antara lain sebagai berikut :

1.Untuk mendapatkan cabang-cabang produktif baru secara terus menerus.

2.Mempermudah masuknya cahaya ke dalam tubuh tanaman produktif untuk merangsang  pembentukkan bunga.

3.Memperlancar peredaran udara di dalam kebun sehingga dapat memperlancar pernyerbukan dan mengurangi kelembaban kebun.

4.Mengatur letak, umur dan bentuk dari cabang produktif sesuai dengan pola yang dikehendaki.

5.Untuk membuang cabang-cabang yang tidak dikehendaki, misalnya cabang yang telah tua dan tidak produktif lagi, dan cabang-cabang yang tidak diperlukan.

6.Membantu mencegah tersebarnya hama dan penyakit.



Untuk mengurangi “biennial bearing” supaya hasil stabil setiap tahun.

Pengairan pada tanaman produktif  tergantung pada jenis tanamannya. Masing-masing tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda, misalnya tanaman durian dan jeruk, pada awal pertumbuhannya harus dilakukan penyiraman setiap hari, sedangkan pada tanaman pisang dan nanas bisa dilakukan penanaman dua sampai tiga hari sekali.Perawatan tanaman dengan cara pembersihan gulma yang dilakukan setiap 3 bulan sekali kemudian untuk tanaman produktif  perlu dilakukan pemangkasan untuk membentuk cabang-cabang produktif, sedangkan pada tanaman yang merumpun seperti pisang dan nanas dilakukan pengurangan anakan.Pada saat tanaman masih muda perlu dilakukan pengedalian secara mekanis dan setelah tanaman menjadi dewasa dapat dilakukan dengan aplikasi fungisida dan insektisida.

Dengan adanya pemeliharaan tanaman produktif ini diharapkan  tanaman dapat tumbuh dengan baik,dan menghasilkan produksi buah yang maksimal,sehingga dapat menambah meningkatakan ekonomi masyarakat.

 

Rabu, 20 April 2022

Pelestarian Sumber Air



Pesatnya pembangunan dan iklim global menyebabkan degradasi lingkungan bagi kelangsungan hidup berbagai makluk hidup atau memutus mata rantai kehidupan karena habitatnya rusak dan panas bumi cenderung meningkat. Demikian juga pasokan air tanah semakin berkurang mengakibatkan masyarakat kesulitan memperoleh air bersih.
Menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menata dan memelihara kelestarian lingkungan perlu di budayakan sejakdini.
Pengelolaan kawasan konservasi pada hakekatnya merupakan salah satu kegiatan berwawasan lingkungan, sehingga berdampak terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan peningkatan kualitas hidup.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh dinas kehutana CDK Pacitan Wilker Ponorogo adalah kegiatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan
(penyelamatan sumber mata air ).Gerakan penghijauan  dengan menanam pepohonan di sekitar kawasan sumber mata air merupakan salah satu cara atu langkah  menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menata dan memelihara kelestarian lingkungan dalam upaya meningkatkan daya dukung dan fungsi lahan sehingga berfungsi optimal menjaga ketersediaan air bersih untuk masyarakat dengan kearifan lokal,serta perlakuan pengamanan dan perlindungannya.
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai fungsi dan peranan sangat penting untuk seluruh kehidupan makluk hidup di muka bumi.
Air menjadi poin utama dalam setiap proses pertumbuhan dan perkembangan makluk hidup,tak terkecuali manusia. Air merupakan sumber alam yang dapat diperbarui oleh alam,oleh karena itu air dianggapsebagai sumber daya alam yang tidak akan habis, merupakan milik umum yang dapat diperoleh kapan dan dimana saja sehingga penggunaanya dilakukan secara tidak hemat dan kurang hati-hati. Seiring dengan meningkatnyajumlah penduduk dan usaha perekonomian di sector perdaganag, industry, dan pertanian kebutuhan air juga meningkat dengan sumber yang relative tetap bahkan berkurang. Air yang semula dapatdiperoleh dengan mudah dan gratis  sebagai anugerah Tuhan kemudian berubah menjadi salah satukomoditas ekonomi yang dapat diperjual belikan.
      Penurunan potensi air baik secara kualitas maupun kuantitas akan menjadi masalah serius apabila dalam pengelolaannya tidak dilaksanakan dengan baik dan bijaksana dengan memperhatikanaspek konservasi, pemanfaatan, dan pengendaliannya. Sesuai undang-undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, bahwa aspek Konservasi Sumber Daya  Air memiliki peran yang sangat penting, mengingat bahwa dampak dari kerusakan lingkungansebagai akibat degradasi hutan danlahan, selain menyebabkan kelangkaan air juga akan menimbulkan terjadinya banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu perlu suatu tindakan konkret untuk memulihkan keseimbangan ketersediaan air, seperti penanaman tanaman keras terutama yang bersifat menahan air, pengelolaan air hujan maupun pemanfaatan air secara bijak oleh semua pihak.
        Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan merupakan  salah satu upaya pemerintah untukmeningkatkan kepedulian terhadap sumber air untuk memenuhan kebutuhan makluk hidup. Pendampingankelompok tani dalam kegiatan penyelamatan sumber mata air bertujuan untuk meningkatkankesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian sumber mata air yang mewujudkan dengan kegiatan-kegiatan penghijauan di daerah tangkapan air.

         Daerah tangkapan air dengan penutupan lahan oleh tegakan hutan yang minim akan mengakibatkan hilangnya sumber mata air yang berada dibawahnya dan berkurangnya debit air terutama di musim kemarau. Air yang seharusnya dapat ditahan dan disimpan dalam tanah, akan hilang begitu saja dan menjadi aliran permukaan yang cenderung merusak lapisan tanah. Kondisi ini terjadi disebabkan kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian mata air. 
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai fungsi dan peranan sangat penting untuk seluruh kehidupan makluk hidup di muka bumi.
Air menjadi poin utama dalam setiap proses pertumbuhan dan perkembangan makluk hidup,tak terkecuali manusia. Air merupakan sumber alam yang dapat diperbarui oleh alam,oleh karena itu air dianggapsebagai sumber daya alam yang tidak akan habis, merupakan milik umum yang dapat diperoleh kapan dan dimana saja sehingga penggunaanya dilakukan secara tidak hemat dan kurang hati-hati. Seiring dengan meningkatnyajumlah penduduk dan usaha perekonomian di sector perdaganag, industry, dan pertanian kebutuhan air juga meningkat dengan sumber yang relative tetap bahkan berkurang. Air yang semula dapatdiperoleh dengan mudah dan gratis  sebagai anugerah Tuhan kemudian berubah menjadi salah satukomoditas ekonomi yang dapat diperjual belikan.
      Penurunan potensi air baik secara kualitas maupun kuantitas akan menjadi masalah serius apabila dalam pengelolaannya tidak dilaksanakan dengan baik dan bijaksana dengan memperhatikanaspek konservasi, pemanfaatan, dan pengendaliannya. Sesuai undang-undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, bahwa aspek Konservasi Sumber Daya  Air memiliki peran yang sangat penting, mengingat bahwa dampak dari kerusakan lingkungansebagai akibat degradasi hutan danlahan, selain menyebabkan kelangkaan air juga akan menimbulkan terjadinya banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu perlu suatu tindakan konkret untuk memulihkan keseimbangan ketersediaan air, seperti penanaman tanaman keras terutama yang bersifat menahan air, pengelolaan air hujan maupun pemanfaatan air secara bijak oleh semua pihak.

        Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan merupakan  salah satu upaya pemerintah untukmeningkatkan kepedulian terhadap sumber air untuk memenuhan kebutuhan makluk hidup. Pendampingankelompok tani dalam kegiatan penyelamatan sumber mata air bertujuan untuk meningkatkankesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian sumber mata air yang mewujudkan dengan kegiatan-kegiatan penghijauan di daerah tangkapan air.
         Daerah tangkapan air dengan penutupan lahan oleh tegakan hutan yang minim akan mengakibatkan hilangnya sumber mata air yang berada dibawahnya dan berkurangnya debit air terutama di musim kemarau. Air yang seharusnya dapat ditahan dan disimpan dalam tanah, akan hilang begitu saja dan menjadi aliran permukaan yang cenderung merusak lapisan tanah. Kondisi ini terjadi disebabkan kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian mata air. 

Selasa, 15 Februari 2022

MANFAAT HUTAN UNTUK KEHIDUPAN

 MANFAAT HUTAN UNTUK KEHIDUPAN

Pendahuluan

      Keberadaan hutan ternyata membawa banyak hal positif baik manusia atau pun lingkungan dan makluk hidup lainnya.

    Fungsi utama hutan yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman lebat adalah untuk menyerap karbon dioksida yang ditimbulkan oleh manusia.

    Kendaraan bermotor,limbah pabrik maupun sumber lainya .

Beberapa manfaat hutan bagi keberlangsungan hidup manusia dan makluk lainnya

* Manfaat klimatologi

  1. Menjaga keseimbangan iklim.

      Perubahan iklim sangat ramah dengan aktifitas

      manusia. Hal ini menmbulkan beberapa kerugian

      dalam sektor pertanian,perkebunan, dan perikanan.

     Dengan mencgah penggundulan hutan,maka mampu

     mencegah berbagai bencana alam seperti

     banjir/longsor

     Menjaga hutan berarti menjaga kestabilan ekosistem

     lingkungan sehingga terhindar dari perubahan

     musimyang tidak stabil atau ekstrim.

Sebagai Paru-paru dunia

—  Hutan merupakan wilayah yang luas dan ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan sehingga memiliki daya serap karbon dioksida sangat tinggi.Hutan merupakan pemasok oksigen paling besar di muka bumi.



—  Menjaga kelestarian keanekaragaman hayati

  Keanekaragaman hayati didunia derasal dari hutan. Didalam hutan menyimpan ratusan hingga ribuan spesies baik flora maupun fauna.Dengan menjaga kelestarian hutan maka akan menjaga keanekaragaman hayati

Manfaat Hidrolis

—  PENAMPUNGAN AIR  HUJAN

—  Hutan dipenuhi berbagai macam pepohonan dan tamanan yang mampu menyerap udara tanah. Semakin lebat pepohonan dan tanaman maka semakin banyak pula air tanah yang diserap sehingga terdapat banyak cadangan air tanah. Ketika musim kemarau/pamas,tanaman masih memiliki cadangan air.

—  Dengan ini hutan memegang peranan penting bagi keseimbangan siklus udara.

—  MENCEGAH INSTRUSI UDARA  ASIN

—  Instrusi aiar asin merupakan proses bercampurnya air asin dan air tawar akibat udara msuk kedaratan sehingga mencemari air tawar, oleh karena itu di butuhkan kawasan ekosistem hutan bakau yang berguna untuk menyerap udara sehingga mengurang instrusi udara didaratan.

—  MELAYANI SIKLUS UDARA DALAM  TANAH

Hutan sangat  berperan dalam siklus tata air tanah. Hutan mampu menyerap udara tanah dan menjaga kesuburan tanah. Hal ini sangat beemanfaat bagi sektor pertanian.

  

MANFAAT  EKOLOGI

—  PENJUALAN  HASIL  HUTAN

—  Selain mempunyai banyak manfaat bagi lingkungan secara ekologi dan hidrolis,hutan membawa banyak manfaat dalam sektor ekonomi. Indonesia merupakan kawasan tropis dengan banyak hutan tropis didalamnya. Ketresidiaan tanaman dapat dimanfaatkan dalam sektor ekonomi diantaranya dalam produksi industri kertas,obat-obatan,tektil,bahan pangan dan masih banyak lagi.

PARIWISATA

Selain menghasilkan keuntungan dan ekonomi dari hasil hutan,ternyata hutan jika dikelola dengan baik dapat difungsikan sebagai tempat wisata edukas. Keindahan panorama daerah yang sejuk,asri, dan keanekaragaman flora fauna yang ada di hutan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melepas penat hiruk pikuk keramaian kota.





PENYUMBANG  DEVISA

—  Devisa merupakan alat pembangunan internasional berupa barang bernilai yang sudah disepakati oleh setiap negara.

—  Di Indonesia hasil hutan menjadi penyumbang devisa besar dari kekayaan hutan.

—  Barang eksport dari hasil hutan termasuk kayu,karet,rempah,madu,kayu manis,jahe  dan masih banyak lagi yang dikelola dalam bentuk hutan produksi.

—  Kelestarian hutan harus dijaga demi keberlangsungan kehidupan masa depan.

                    

                                    Mari jaga hutan,sayangi bumi.

 

Jumat, 28 Januari 2022

BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH


BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH

PENDAHULUAN
     Budidaya jamur tiram sangat cocok untuk daerah beriklim tropis seperti Indonesia.
Nama Latin Jamur tiram adalah Pleurotus ostreatus,termasuk dalam kelompok Basidiomycota. Disebut jamur tiram karena bentuk tajuknya menyerupai kulit tiram. Berwarna putih berbentuk setengah lingkaran. Di alam bebas , jamur tiram putih biasa ditemukan pada batang- batang kayu yang sudah lapuk. Mungkin karena itu, jamur tiram sering disebut jamur kayu.
    Investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini cukup murah dan bisa dilakukan bertahap.Bagian tersulit adalah membuat baglog, media tanam yang telah di inokulasi dengan bibit jamur.
    Ada dua kegiatan utama dalam budidaya jamur tiram. Tahap pertama adalah membuat media tanam dan menginolulasikan bibit jamur ke dalam media tanam tersebut. Sehingga media ditumbuhi miselium berwarna putih seperti kapas.
Tahap kedua adalah menumbuhkan miselium tersebut menjadi badan buah.




MENYIAPKAN KUMBUNG
     Kumbung atau  rumah  jamur adalah tempat untuk merawat baglog dan  menumbuhkan jamur. Kumbung biasanya berupa sebuah bangunan, yang di isi rak-rak untuk meletakna baglog. Bangunan tersebutbharus memiliki kemapuan untuk menjaga suhu dan kelembaban..
    Kumbung biasanya dibuat dari bamboo atau kayu. Dinding kumbung bisa dibuat dari gedeg atau papan. Atapnay dari genteng atau sirap. Jangan menggunakan atap asbes atau seng  karena mendatangkan panas. Sedangkan bagian  lantai  sebaiknya tidak di plester agar suhu tetap dingin.
    Didalam kumbung dilengkapi dengan rak berupa kisi-kisi berkitangkat. Rak tersebut berfungsi untuk menyusun baglog.
    Ukuran ketinggian ruang antar rak sebaiknya tidak kurang dari 40 cm, rak bisa dibuat  2-3 tingkat. Lebar rak 40 cm dan panjang setiap ruas rak 1 meter. Setiap rak sebesar ini bisa memuat 70-80 baglog.


Selebum baglog  dimasukan kedalam kumbung, sebaiknya lakukan persiapan terlebih dahulu. Berikut langkah-langkahnya :
-          Bersihakn kumbung dan rak untuk menyimpan baglog dari kotoran.
-          Lakukan pengapuran dan penyemprotan dengan fungisida di bagian dalam kumbung. Diamkan selama 2 hari, sebelum baglog dimasukan ke dalam kumbung.
-          Setelah bau obat hilang, masukan baglog
MENYIAPKAN BAGLOG
      Baglog merupakan media tanam, tempat meletakan bibit jamur tiram. Bahan utama baglog adalah serbuk gergaji, karena jamur tiram termasuk jamur kayu. Baglog dibungkus plastic berbentuk silinder, dimana salah satu ujung diberi lubang. Pada lubang tersebut jamur tiram akan tumbuh menyembul keluar.
CARA MERAWAT BAGLOG
     Terdapat dua cara menyusun baglog dalam rak, yakni diletakan secara vertical dimana lubang baglog menghadap ke atas. Dan secara horizontal, lubang baglog menghadap ke samping.
     Kedua cara ini memiliki kelebihan masing-masing. Baglog yang disusun secara horizontal lebih aman dari siraman air. Bila penyiraman berlebih ,  air  tidak akan masuk kedalam baglog. Selain itu, untuk melakukan pemanenan lebih mudah, Hanya saja penyusunan horizontal  lebih menyita ruang.
Berikut cara perawatan jamur tiram sebagai berikut :
     # Sebelum baglog disusun, buka terlebih dahulu cincin dan kertas penutup
        Baglog. Kemudian diamkan kurang lebih 5 hari. Bila lantai terbuat dari tanah
        Dilakukan penyiraman  untuk menambah  kelembaban.
     #  Setelah itu, potong ujung baglog untuk memberikan ruang pertumbuhan lebih
         Lebar. Biarkan selama 3 hari jangan disiram. Penyiraman cukup pada lantai.
     #  Lakukan penyiraman dengan sprayer.  Penyuraman sebaiknya membentuk
         Kabut bukan tetesan air. Semakin sempurna pengabutan semakin baik.
        Frekwensi penyiraman 2-3 kali sehari, tergantung suhu dan kelembaban
        Kumbung, jaga suhu pada kisaran


PEMANENAN
      Bila baglog yang digunakan permukaannya telah tertutup sempurna dengan miselium, biasanya dalam 1-2 minggu sejak pembukaan tutup baglog, jamur akam tumbuh dan siap dipanen. Baglog jamur bisa dipanen 5-8 kali, bila perawatannya baik Baglog yang memiliki bobot sekitar 1 kg akan menhasilkan jamur 0,7-0,8 kg.  Jarak panen pertama ke panen berikutnya berkisar 2-3 minggu.                                     Setelah baglog sudah  tidak  produksi  dibuang dan bisa dijadikan  untuk kompos.
         

 


Sabtu, 04 Desember 2021

PERLINDUNGAN MATA AIR

 

                                                   PERRLINDUNGAN  MATA AIR

Perlindungan Mata Air (PMA) adalah salah satu upaya dalam sistem penyediaan air minum untuk menjaga sumber air baku untuk air minum agar tidak mengalami perubahan baik terhadap kuantitas maupun terhadap kualitas air dari mata air

Sumberdaya air merupakan salah satu sumberdaya yang ikut terdampak pandemi Covid-19 dan tatanan normal baru. Dalam hal ini, tatanan normal baru akan memunculkan suatu standar baru yang perlu menjadi perhatian, salah satunya pemenuhan air baku yang lebih berkualitas untuk berbagai kebutuhan. 

Mengapa mata air harus dilindungi?

Mata air merupakan salah satu sumber air potensial yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Nilai penting mata air bukan hanya dari kualitasnya saja, namun juga penting dari aspek kuantitas. Sebagai gambaran, dari seluruh air yang ada di bumi, air tawar yang bisa dimanfaatkan hanya 3% saja. Sekitar 30?ri air tawar tersebut, hanya 0,3% yang dapat dimanfaatkan langsung dalam bentuk air permukaan. Air tanah sebagai sumber mata air mempunyai potensi paling besar yaitu 30?ri air tawar yang ada di bumi.

Nilai penting mata air lainnya bisa dilihat dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi. Mata air yang berada di pegunungan pada umumnya mempunyai kualitas yang sangat baik, sehingga hal ini menjadi daya tarik para pelaku usaha untuk memanfaatkannya. Berbagai produk air minum dalam kemasan merupakan salah satu bentuk pemanfaatan air mata air secara ekonomi. 

Lokasi dengan potensi mata air juga menjadi daya tarik terbentuknya peradaban sejak dahulu kala. Pusat-pusat peradaban dunia dan kota-kota besar pada umumnya berlokasi dekat dengan sumber air, khususnya mata air.

Secara ekologis, pentingnya mata air ditunjukkan oleh peran mata air yang mempengaruhi kelestarian ekosistem akuatik maupun non-akuatik yang berada di bawahnya.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mata air merupakan sistem penyangga ekosistem di bawahnya.

Ke depan, peningkatan kebutuhan air baku sebagai akibat pesatnya pembangunan dan pertambahan penduduk merupakan salah satu ancaman. Di sisi lain, tatanan normal baru juga menuntut agar sumber air baku khususnya mata air, memiliki kualitas lebih baik serta kuantitasnya cukup dan tersedia sepanjang waktu.

Perlindungan juga dapat dilihat dari sudut pandang infrastruktur dan kawasan. Perlindungan mata air berupa infrastruktur pada intinya adalah perlindungan melalui struktur bangunan, misalnya bangunan penampung air. Sudut pandang kawasan merujuk perlindungan mata air secara spasial, baik sekitar titik mata air maupun DTA (Daerah Tangkapan Air) mata air. 

Proses kejadian mata air tidak terlepas dari beberapa kondisi yang memengaruhinya. Setidaknya terdapat tiga kondisi yang memengaruhi kemunculan mata air, yaitu kondisi morfologi, kondisi geologi dan kondisi hidrogeologi. Karakterisasi mata air sering digunakan untuk mengetahui proses kejadian mata air, diantaranya berdasarkan sifat pengaliran air tanah, debit air, suhu air, tipe akuifer, tenaga penyebab pengaliran air tanah.




Pengendalian kerusakan mata air dan air tanah dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, permasalahan lingkungan, dan bencana ekologis. Dari ketiga faktor ini selanjutnya akan mempengaruhi kondisi mata air dan air tanah. Kondisi ini selanjutnya diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas, yakni kelas Aman – Rawan – Rusak. Fungsi dari pengklasifikasian kelas ini nantinya akan menjadi pertimbangan pengambilan keputusan untuk melaksanakan aksi yang sesuai untuk kondisi masing-masing kelas.

Sementara itu, Dr. Dasapta menyatakan pemanfaatan air tanah sebagai opsi terakhir setelah air permukaan atau sumber lain. “Dalam pengambilan air tanah sebaiknya dilakukan pada musim kemarau saja,  karena pada saat musim hujan kita bisa memanen air yang melimpah sekaligus mengurangi konsumsi air tanah.



Untuk pemulihan air tanah tidak bisa dilakukan di tanah dangkal. Areal yang perlu di cover dengan ekuivalensi simpanan air hujan dan perlu dipertimbangkan pula berapa kapasitas (liter) yang akan dimasukkan. “Teknologi yang dapat dikembangkan di masa depan adalah bagaimana rumah-rumah atau gedung-gedung perkantoran dapat mandiri memproduksi air tanpa mengambil air tanahnya. Hal ini perlu didukung dari sektor Perguruan Tinggi yang memiliki potensi SDM yang berkualitas untuk menghasilkan riset-riset teknologi.

 

Senin, 15 November 2021

PENGEMBANGAN AGROFORESTRY JAMBU METE DI SELA TANAMAN JATI

 

PENDAHULUAN 

            Salah satu masalah yang dihadapi negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah pesatnya pertambahan penduduk sehingga kebutuhan akan pangan maupun kebutuhan lainnya juga turut bertambah. Dilain pihak jumlah lahan yang dapat memproduksi pangan sangat terbatas oleh akibat banyaknya lahan pertanian yang dikonversi menjadi pemukiman atau perumahan.

Berbagai usaha  yang telah ditempuh oleh  pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya. Namun keterbatasan teknologi serta pengetahuan bagi para petani mengakibatkan penggunaan sumberdaya alam tersebut bahkan menimbulkan lahan-lahan kritis.

Melihat keadaan tersebut pemerintah mengambil berbagai kebijaksanaan meningkatkan hasil pangan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Namun pada kenyataannya jumlah lahan kritis setiap tahun semakin bertambah sehingga perlu upaya penanggulangan diantaranya melalui usaha reboisasi dan penghijauan. Bahkan saat sekarang dikembangkan suatu system tata guna lahan dengan penanaman secara bersama antara tanaman kehutanan dan tanaman pertanian yang dikenal dengan system agroforestry.

Tujuan utama dari system agroforestry adalah untuk memperbaiki serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan melalui usaha peningkatan produksi bahan makanan maupun peningkatan pendapatan penduduk yang diarahkan kepada penyelamatan dan pencegahan kerusakan hutan, tanah, dan air. Untuk itu perlu pemilihan tanaman yang baik dan tepat sesuai dengan keadaan setempat dimana diharapkan dapat memberikan keuntungan dan nilai tambah kepada para petani.

Tanaman jati (Tectona grandis) dan Jambu mete (Anacardium occidentale Linn) adalah  jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai tanaman campuran antara tanaman keras dengan tanaman produtif karena disamping sifatnya yang dapat memulihkan kondisi kesuburan tanah juga pencegah erosi pada tanah-tanah gundul atau kritis. Disamping itu sifatnya yang lain adalah tahan terhadap kekeringan juga pemeliharaan mudah dan sederhana serta pertumbuhannya relatif singkat sudah dapat memenuhi fungsi dan peranannya sebagai tanaman penghijauan (Djarijah,dkk, 1994). Lebih lanjut Sumartono  (1994) mengemukakan bahwa tanaman jati dan jambu mete tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi serta dapat hidup pada tanah-tanah yang kurang subur dan kekurangan hara. Tanaman jati dan jambu mete mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi oleh karena kayu jati harga kayunya sangat tinggi dan buah jambu buahnya dapat dikonsumsi disamping bijinya mengandung gizi yang tinggi sedangkan buah semunya banyak mengandung vitamin C, B1 dan B2. Kulit bijinya mengandung cairan CNSL yang berguna untuk bahan pembuat cat. Sehubungan dengan  hal tersebut maka perlu  dikembangkan tanaman jambu mete

II. PERKEMBANGAN AGROFORESTRY

Di KTH Argo Munggu Lestari Desa Munggu ,Kecamatan Bungkal, Kabupate Ponorogo sedang dikembangkan tanaman jambu mete di sela tanaman jati dengan system agroforestry  tumpangsari.

 Sistem agroforestry merupakan sistem yang relatif baru untuk rangkaian kegiatan yang telah dikenal sejak lama dan konsep agroforestry telah memperoleh pengakuan secara internasional dalam memanfaatkan lahan dan telah mengalami berbagai kesukaran dan dalam waktu yang lama sebelum dapat diterima di kalangan ilmuwan baik sebagai suatu nama maupun sebagai suatu konsep.

Istilah agroforestry meliputi berbagai macam sistem pemanfaatan lahan yang mengkombinasikan kehutanan dan pertanian atau penggembalaan pada lahan sama. Agroforestry diarahkan pada penyelesaian masalah pengembangan pedesaan, utamanya pada daerah tropis, dengan:

-         Meningkatkan dan memperbaiki hasil produksi

-         Menjaga penyediaan energi lokal

-         Produksi kayu dan berbagai bahan mentah lainnya bagi kebutuhan petani itu sendiri, untuk industri, dan jika mungkin untuk di ekspor

-         Perlindungan dan perbaikan potensi produksi pada lahan dan lingkungan yang tersedia; meningkatkan daya dukung ekologi manusia;

-         Menjaga kelestarian melalui intensifikasi pemanfaatan lahan yang tepat

-         Memperbaiki kondisi sosial ekonomi di daerah pedesaan dengan menciptakan lapangan kerja, pendapatan dan mengurangi resiko;

-         Pengembangan sistem pemanfaatan lahan yang mengoptimalkan penggunaan teknologi modern dan pengalaman tradisional setempat sesuai dengan budaya dan kehidupan masyarakat yang dimaksud.

Dalam kaitannya dengan penggunaan lahan, sebaiknya sistem agroforestry dilaksanakan di daerah dengan kondisi topografi yang miring, dengan tingkat kesuburan yang rendah. Dengan melaksanakan system agroforestry di daerah tersebut tidak saja mengatasi erosi akan tetapi juga menjamin tersedianya pangan, kayu bakar dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani (Satjapradja, 1981). Selanjunya dikemukakan bahwa untuk pengembangan agroforestry, agar tidak mengkonversi hutan alam yang masih  baik akan tetapi lebih difokuskan pada rehabilitasi tanah-tanah kritis.

1.      Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn)

      a.  Asal dan penyebaran

Jambu mete berasal dari Amerika Selatan yakni dari daerah Brazzilia bagian Timur Laut pada daerah lembah sungai Amazone. Tanaman ini dimasukkan ke Indonesia pada abad XVI, namun belum berperan sebagai tanaman komersil (Abdullah, 1985).

            Menurut Rismunandar (1986) bahwa tanaman jambu mete kini telah menyebar ke negara-negara yang beriklim tropis dan merupakan tanaman kosmopolit. Sedangkan di Indonesia tersebar di daerah Jawa dan Madura.

            b. Morfologi

                        Sistem perakaran tanaman jambu mete terdiri atas akar tunggang dan beberapa akar yang tumbuhnya mendatar ke samping, sedang akar-akar disekitar akar tunggang yang tumbuhnya vertikal ke bawah, sehingga memungkinkan tanaman dapat berdiri kokoh di atas tanah tempat tumbuhnya. Sistem perakaran dan  luas daerah pertumbuhannya yang menyebar tersebut menjamin pertumbuhan dan perkembangan tanaman sekalipun tumbuh di daerah kering. Namun pertumbuhannya menjadi kurang baik apabila aerasi jelek.

                        Tanaman jambu mete termasuk tanaman pohon. Percabangan relatif dibentuk dekat permukaan tanah dengan habitus agak menyebar, sehingga menyerupai bentuk semak. Tinggi pohon mete dapat mencapai 10 – 12.

            d. Syarat Tumbuh

                        Tanaman jambu mete dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah dengan curah hujan 500 mm setahun bahkan curah hujan 3000 - 4000 mm setahun, asal drainasenya baik (Djarijah dan Mahedalswara, 1994).      Dan menurut Sumartono (1983) tanaman jambu mete lebih menyukai suhu tinggi dan dapat mentolerir suhu udara yang lebih tinggi dari 30°C dan rendah rata-rata 20°C dengan curah hujan terendah hingga tinggi.

                        Umumnya tanaman jambu mete dapat tumbuh dan menghasilkan .hampir pada semua jenis tanah kecuali tanah-tanah lempung, tanah-tanah yang mengandung lapisan garam dan tanah-tanah dengan drainase buruk. Tanaman jambu mete juga dapat tumbuh dengan baik pada tempat-tempat dengan kedalaman air tanah mencapai 10 m. tanah gembur mengandung pasir dan air tidak tergenang adalah tempat tumbuh terbaik bagi jambu mete.

Dengan penerapan pola agroforestry terhadap kedua tanaman di atas dapat digamparkan bahwa penanaman tumpangsari dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan jambu mete karena selain menekan pertumbuhan gulma yang sangat memberikan pengaruh terhadap persaingan penyerapan unsur hara. Disamping itu tanaman jati dapat berfungsi sebagai tanaman pelindung dengan perakaran yang dalam mampu mencegah terjadinya evaporasi yang berlebihan sehingga lebih memungkinkan tersedianya air dalam tanah yang merupakan faktor penting dalam mekanisme penyerapan hara dimana akar lebih banyak mengabsorbsi  hara dalam suasana lembab dari pada bila akar tumbuh dalam suasana kering.

Menurut Yuhaeni dkk (1983) bahwa unsure nitrogen sangat kuat pengaruhnya dalam fase-fase pertumbuhan tanaman karena unsure nitrogen berfungsi didalam sintesa protein yang merupakan unsure pembangun protoplasma dalam pembentukan organ-organ tanaman. Dengan bertambahnya unsur-unsur nitrogen maka pertumbuhan  dan perkembangan tanaman akan menjadi lebih baik sehingga tanaman cenderung membentuk daun yang lebar serta batang yang lebih besar dan tanaman semakin tinggi.


TANAMAN JATI

            Merupakan pohon yang menghasilkan kayu berkualitas tinggi. Pohon jati ini memiliki kayu yang kuat dan awet untuk membuat furniture. Kayu dari pohon jati merupakan kayu berkualitas tinggi dan dihasilkan dari pohon yang berumur lebih dari 80 tahun. Pohon jati dapat tumbuh hingga ratusan tahun, di Indonesia pohon jati terbesar dan tertua yaitu pohon 'Jati Denok' yang tumbuh di Blora, Jawa Tengah.
Pohon jati terdiri dari beberapa bagian yang memiliki manfaat sebagai berikut:
Daun jati dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati akan terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi pecel yang terkenal dari Ponorogo. Selain itu daun jati juga banyak digunakan di gunakan sebagai pembungkus .tempe
Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw. walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat jati (Endoclita). Ulat jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya.
Kayu jati dimanfaatkan untuk membangun rumah dan juga alat pertanian. Kayu jati pada masa perang juga digunakan untuk membangun kapal-kapal niaga dan kapal-kapal perang. Saat ini kayu jati digunakan sebagai furnitur.

Kesimpulan

            Dari hasil uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa pola pengembangan tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn)  dengan tanaman Jati (Tectona Grandis) yang merupakan salah satu bahan  industri dapat  dilakukan dengan mengetahui sifat-sifat pertumbuhan masing-masing tanaman. Dengan demikian nilai produksi dari suatu lahan yang kondusif dapat ditingkatkan secara ekonomi.